Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

THE KAIA vs Kost Konvensional Dekat UI: Apa Perbedaannya?

THE KAIA



Kalau sedang mencari investasi kost dekat UI, biasanya ada dua pilihan yang cukup sering muncul.

Pertama, membeli atau membangun rumah kost konvensional lalu mengelolanya sendiri.

Kedua, memilih properti yang sejak awal memang dirancang sebagai bisnis kost lengkap dengan fasilitas dan sistem pengelolaannya, seperti THE KAIA di Kukusan, Depok.

Sekilas keduanya terlihat sama.

Sama-sama bangunan kost. Sama-sama punya kamar. Sama-sama berharap mendapatkan pemasukan dari penyewa.

Tetapi setelah dibedah lebih dalam, modelnya ternyata cukup berbeda.

THE KAIA bukan hanya menawarkan sepuluh kamar untuk disewakan. Konsep yang dibawa lebih mendekati perpaduan antara rumah kost, co-living, dan hospitality.

Berdasarkan materi proyek, THE KAIA merupakan rumah kost 10 kamar dengan kepemilikan SHM, bangunan standar hotel, lift, infinity pool, parkir basement, serta lokasi sekitar 400 meter dari Pintu Kutek UI.

Sementara kost konvensional biasanya lebih fleksibel.

Pemilik bisa menentukan sendiri jumlah kamar, desain, fasilitas, harga sewa, hingga bagaimana operasional kost akan dijalankan.

Lalu mana yang lebih cocok?

Menurut saya, pertanyaannya jangan buru-buru dibuat menjadi "mana yang lebih bagus?"

Lebih tepat kalau kita melihat satu per satu perbedaannya.

Apa Perbedaan THE KAIA dan Kost Konvensional Dekat UI?

Secara sederhana, THE KAIA menawarkan rumah kost 10 kamar dengan konsep co-living standar hotel, fully furnished, kepemilikan SHM, fasilitas bersama yang cukup lengkap, dan sistem pengelolaan profesional.

Sementara kost konvensional biasanya dibangun dan dikelola sesuai konsep masing-masing pemilik.

Ada kost konvensional yang sederhana.

Ada yang premium.

Ada yang punya belasan bahkan puluhan kamar.

Ada pula yang fasilitasnya sangat lengkap.

Jadi istilah kost konvensional di artikel ini bukan berarti kost lama atau kost yang kurang bagus.

Yang dibandingkan adalah model investasinya.

THE KAIA sudah membawa satu sistem yang relatif terstruktur sejak tahap perencanaan, pembangunan, furnitur, fasilitas sampai pengelolaan.

Sedangkan pada kost konvensional, hampir semuanya bisa ditentukan sendiri oleh investor.

Dan justru di sinilah perbedaannya mulai terasa.

Lokasi THE KAIA Dekat Universitas Indonesia

Dalam bisnis rumah kost, lokasi biasanya menjadi filter pertama yang saya lihat.

Bangunan masih bisa direnovasi.

Kasur bisa diganti.

Cat bisa diperbarui.

Tetapi lokasi tidak bisa dipindahkan.

THE KAIA berada di kawasan Kukusan, Beji, Depok, dan disebut berada sekitar 400 meter dari Pintu Kutek UI.

Untuk pasar mahasiswa, jarak seperti ini tentu layak diperhatikan.

Mahasiswa biasanya melakukan perjalanan ke kampus hampir setiap hari. Karena itu, tempat tinggal yang relatif dekat dengan kampus bisa memberikan kenyamanan yang cukup berarti.

Materi THE KAIA juga menyebut estimasi sekitar dua menit menuju Pintu Kutek UI serta sekitar lima menit menuju Gerbang Tol Kukusan 1.

Tetapi saya tetap punya kebiasaan sederhana kalau menilai investasi kost.

Jangan cuma lihat Google Maps.

Datang langsung.

Kalau memungkinkan, coba perjalanan dari lokasi kost menuju pintu kampus.

Lihat kondisi jalannya.

Lihat lingkungan pada pagi, siang, dan malam hari.

Karena dua properti yang sama-sama disebut "500 meter dari kampus" belum tentu punya akses yang sama nyaman.

Kost konvensional dekat UI tentu juga bisa mempunyai lokasi yang sama bagusnya, bahkan mungkin lebih dekat.

Jadi lokasi THE KAIA bukan berarti otomatis mengalahkan seluruh kost lain di Kukusan.

Yang penting adalah melihatnya secara apple to apple.

THE KAIA Menawarkan 10 Kamar dalam Satu Unit Rumah Kost

THE KAIA ditawarkan sebagai rumah kost dengan 10 kamar dan 10 kamar mandi.

Harga yang tercantum pada materi proyek adalah Rp4,8 miliar.

Dalam paket tersebut juga disebutkan kondisi fully furnished, 10 executive rooms, parkir basement, lift, infinity pool, dan berbagai perlengkapan kamar.

Kalau terbiasa melihat investasi rumah kost, mungkin ada yang berpikir begini:

"Kenapa hanya sepuluh kamar?"

Saya dulu juga gampang terpancing menghitung jumlah pintu.

Semakin banyak kamar seolah otomatis semakin bagus.

Padahal kenyataannya belum tentu.

Kamar harus bisa disewakan dengan harga yang masuk akal.

Penghuni harus betah.

Maintenance harus bisa dikendalikan.

Dan produknya harus tetap kompetitif setelah bangunan berumur lima atau sepuluh tahun.

Karena itu saya sekarang lebih suka bertanya:

Berapa nilai ekonomis masing-masing kamar dalam jangka panjang?

Jumlah kamar memang penting, tetapi kualitas produknya jangan sampai dikorbankan hanya untuk mengejar jumlah.

Desain Kamar THE KAIA Dipersiapkan Sejak Awal

THE KAIA


Salah satu masalah rumah kost yang kadang baru terasa setelah bangunan jadi adalah layout kamar.

Di atas gambar denah terlihat cukup.

Begitu kasur, lemari, meja, kulkas dan barang penghuni masuk, ternyata jalannya tinggal sedikit.

THE KAIA mencoba mengatasi masalah itu sejak tahap desain.

Berdasarkan denah proyek, kamar memiliki ukuran sekitar 3,65 x 2,6 meter, dengan kamar mandi sekitar 1,82 x 1,2 meter.

Yang menarik bukan hanya ukuran ruangnya.

Furnitur juga dirancang menyesuaikan kamar.

Ada dipan dengan storage, lemari custom, meja custom, kursi, cermin full body, serta perlengkapan lainnya.

Pendekatan seperti ini berbeda dengan model kost yang membangun kamar terlebih dahulu kemudian furnitur baru dipikirkan setelahnya.

Apakah berarti kost konvensional tidak bisa dirancang sebaik ini?

Tentu bisa.

Kalau investor menggunakan arsitek yang bagus dan memang merencanakannya dari awal, hasilnya bisa sama baik atau bahkan lebih bagus.

Bedanya, investor harus mengatur proses tersebut sendiri.

THE KAIA


Fasilitas Kamar THE KAIA Lebih Mendekati Konsep Hospitality

Fasilitas kamar menjadi salah satu pembeda yang cukup terlihat.

THE KAIA menawarkan kasur tipe hotel Queen dan Double dari King Koil, bantal microfiber King Koil, AC inverter Daikin, smart door, kulkas mini, USB wall socket, meja, lemari, cermin full body hingga hair dryer.

Kamar mandi juga dilengkapi water heater Ariston 15 liter, toilet American Standard, jet shower, serta shower dan kran Paloma.

Kalau dilihat dari perspektif mahasiswa, nama merek mungkin bukan alasan utama mereka memilih tempat tinggal.

Mahasiswa kemungkinan lebih memperhatikan kenyamanan, lokasi dan harga.

Tetapi dari perspektif investor, spesifikasi yang jelas cukup penting.

Kita tahu standar kamar yang nantinya dipasarkan.

Kalau membangun kost konvensional sendiri, semuanya juga bisa dibuat seperti itu.

Bahkan investor bebas memilih merek yang lebih mahal atau lebih ekonomis.

Sekali lagi, perbedaannya terletak pada sistem.

Di THE KAIA, spesifikasi tersebut sudah menjadi bagian dari paket produk.

Pada kost konvensional, pemilik yang harus menyusun sendiri semuanya.

Fasilitas Bersama Menjadi Pembeda THE KAIA

Kalau cuma membandingkan kamar, mungkin perbedaannya belum terlalu terasa.

Begitu melihat fasilitas bersama, baru kelihatan positioning THE KAIA.

Dalam materi proyek terdapat fasilitas seperti cafeteria, working space, infinity pool, laundry area, lift, yoga space, gym area, security post, filter air, pojok baca, mushola, CCTV, water purifier, area parkir, serta pocket park.

Fasilitas seperti ini membuat konsepnya lebih dekat ke co-living.

Penghuni tidak hanya mendapatkan ruang untuk tidur.

Ada ruang untuk bekerja atau belajar.

Ada fasilitas olahraga.

Ada laundry area.

Ada ruang bersama.

Ada fasilitas keamanan dan utilitas.

Bagi mahasiswa, working space menurut saya justru bisa menjadi fasilitas yang cukup relevan.

Tidak semua tugas nyaman dikerjakan di atas kasur.

Kadang perlu buka laptop cukup lama.

Ada tugas kelompok.

Ada meeting online.

Ada kalanya sekadar ingin pindah suasana.

Gym dan infinity pool mungkin tidak digunakan setiap hari.

Tetapi keberadaan fasilitas seperti itu bisa meningkatkan persepsi terhadap kelas properti.

Dan persepsi itu penting ketika sebuah kost ingin masuk ke segmen sewa yang lebih tinggi.

THE KAIA Memiliki Lift

Lift kelihatannya seperti fasilitas biasa sampai harus naik turun beberapa lantai setiap hari.

Kalau hanya sekali mungkin tidak terasa.

Kalau setiap hari sambil membawa laptop, barang belanjaan atau koper, ceritanya lain.

THE KAIA mencantumkan lift sebagai salah satu fasilitas proyek.

Pada kost konvensional, penggunaan lift sangat tergantung jumlah lantai, desain, dan budget pembangunan.

Ada kost yang tidak membutuhkannya.

Ada pula yang secara bangunan sebenarnya sudah cukup tinggi sehingga lift akan membuat penghuni jauh lebih nyaman.

Tetapi dari sisi investasi, lift juga tidak boleh dilihat hanya sebagai fasilitas.

Ada biaya maintenance.

Ada listrik.

Ada pemeriksaan.

Artinya fasilitas tambahan bisa mendukung harga sewa, tetapi pada saat yang sama juga menambah tanggung jawab operasional.

Ini yang harus dimasukkan ketika menghitung pendapatan bersih.

Parkir Basement THE KAIA Membuat Pemanfaatan Lahan Berbeda

THE KAIA


THE KAIA juga menggunakan parkir basement.

Buat saya, ini salah satu detail yang cukup menarik.

Pada lahan dengan nilai tanah tinggi, area parkir kadang memakan ruang yang sebenarnya bisa dipakai untuk fungsi lain.

Dengan menempatkan parkir di basement, area permukaan bisa dimanfaatkan lebih efisien.

Dari tampilan bangunan juga biasanya terasa lebih rapi.

Kost konvensional tentu bisa dibuat dengan basement juga.

Masalahnya, pembangunan basement membutuhkan perencanaan dan biaya yang berbeda dibanding parkir biasa di permukaan.

Karena itu kebanyakan rumah kost menyesuaikan parkir dengan lahan yang tersedia.

Untuk target mahasiswa, urusan parkir motor jangan dianggap remeh.

Kalau saya melakukan survey, jumlah slot parkir juga akan saya hitung.

Bukan cuma jumlah kamar.

Cara THE KAIA Dibangun Juga Menjadi Bagian dari Produk

Ada satu bagian dalam katalog THE KAIA yang menurut saya cukup menarik karena membahas hal yang biasanya tidak terlalu seksi dalam pemasaran properti.

Konstruksi.

Sebelum pembangunan disebut dilakukan sondir untuk mengetahui daya dukung tanah serta pest control sebelum dinding dibangun.

Proyek juga menggunakan arsitek dan tim struktur.

Dalam proses pembangunan disebutkan penggunaan pondasi cakar ayam, besi ulir standar SNI, kontraktor berpengalaman serta material dan furnitur yang telah ditentukan.

Setelah bangunan digunakan, sistem pengelolaan juga mencantumkan pembersihan mingguan dan pengecekan kamar secara berkala.

Kenapa saya cukup peduli dengan bagian ini?

Karena tampilan bangunan yang cantik hanya membuat kita senang saat pertama melihatnya.

Kesalahan konstruksi bisa membuat kita pusing bertahun-tahun.

Saluran air bocor.

Dinding lembap.

Kelistrikan bermasalah.

Atap rembes.

Pompa air terus rusak.

Masalah seperti itu tidak kelihatan pada render.

Kalau membangun kost konvensional sendiri, investor sebenarnya mempunyai kontrol jauh lebih besar.

Bisa menentukan arsitek.

Bisa memilih kontraktor.

Bisa mengawasi setiap material.

Tetapi konsekuensinya juga jelas.

Investor harus terlibat lebih dalam.

Dan tidak semua orang punya waktu atau pengalaman untuk melakukannya.

THE KAIA Dirancang oleh Tim Arsitek dan Struktur

Dalam materi proyek disebutkan THE KAIA dirancang oleh Wismu Sadono, yang disebut sebagai arsitek bersertifikasi Dewan Arsitek Indonesia dan lulusan S2 Arsitektur Universitas Indonesia.

Proyek juga didukung oleh tim ahli struktur bangunan.

Informasi seperti ini menurut saya lebih relevan terutama kalau membeli properti yang masih dalam tahap pembangunan.

Kalau bangunannya sudah jadi, kita bisa datang dan melihat hasil akhirnya.

Kalau belum selesai, investor harus banyak mengandalkan desain, spesifikasi, kontrak dan rekam jejak pihak yang mengerjakannya.

Karena itu, siapa yang merancang dan siapa yang membangun tetap layak diperhatikan.

Perbedaan Terbesar THE KAIA dan Kost Konvensional Ada di Pengelolaan

Kalau saya harus memilih satu hal yang paling membedakan kedua model ini, jawabannya mungkin adalah pengelolaan.

Banyak orang membeli rumah kost karena membayangkan passive income.

Setiap bulan uang sewa masuk.

Enak.

Masalahnya, bisnis kost tetap sebuah bisnis.

AC bisa rusak.

Kran bisa bocor.

WiFi mati.

Penyewa terlambat bayar.

Kamar kosong harus dipasarkan.

Cleaning service bisa tidak masuk.

WC bisa mampet.

Pompa air bisa rusak.

Dan anehnya masalah seperti itu suka muncul ketika pemilik sedang tidak ingin diganggu.

Kalau kost dikelola sendiri, semua persoalan tersebut pada akhirnya kembali kepada pemilik atau staf yang ditunjuk.

THE KAIA menggunakan pendekatan berbeda.

Dalam materi proyek, pengelola yang disebut adalah Escotel Group.

Katalog menyebut Escotel Group mengelola 1.024 kamar dan 76 villa di Jabodetabek, Bandung dan Bali.

Artinya investor THE KAIA tidak diposisikan sebagai orang yang harus mengurusi seluruh aktivitas harian kost sendiri.

Bagi investor tertentu, bagian inilah yang mungkin justru paling bernilai.

Terutama orang yang ingin memiliki aset produktif tetapi tidak ingin mendapatkan pekerjaan tambahan sebagai manajer kost.

Pengelolaan Profesional Tetap Memiliki Biaya

THE KAIA


Di sini jangan salah paham.

Dikelola orang lain bukan berarti seluruh uang sewa masuk ke investor.

Pengelola tentu mempunyai bagian.

Dalam materi THE KAIA dijelaskan adanya skema komunal serta hybrid system.

Pada skema hybrid, terdapat pembagian sekitar 25 sampai 35 persen untuk pengelola dan sekitar 65 sampai 75 persen untuk investor, dengan pembagian hasil yang disesuaikan dengan kinerja.

Dalam penjelasan model komunal juga disebutkan bahwa risiko ketika okupansi rendah ikut ditanggung pengelola dan investor dibebaskan dari biaya maintenance serta operasional tertentu sesuai sistem yang dijelaskan dalam perjanjian.

Di sinilah saya biasanya tidak mau terlalu cepat terpukau oleh persentase.

Baca kontraknya.

Apa yang dimaksud pendapatan?

Apakah pendapatan kotor atau bersih?

Biaya apa yang sudah termasuk?

Bagaimana kalau ada renovasi besar?

Bagaimana jika kamar kosong?

Bagaimana pelaporannya?

Pertanyaan seperti itu jauh lebih penting daripada hanya melihat angka bagi hasil.

Kost Konvensional Bisa Dikelola Sendiri

Kost konvensional mempunyai kelebihan yang tidak boleh diremehkan.

Pemilik punya kontrol lebih besar.

Mau mengelola sendiri, silakan.

Mau mempekerjakan penjaga, bisa.

Mau menggunakan jasa management lokal, juga bisa.

Mau menaikkan atau menurunkan harga kamar, relatif lebih fleksibel.

Kalau sudah mempunyai pengalaman mengelola kost, model seperti ini justru bisa menarik.

Investor bisa mengendalikan biaya lebih ketat.

Mereka juga bisa lebih cepat mengambil keputusan ketika kondisi pasar berubah.

Tetapi ada harga yang dibayar.

Waktu.

Tenaga.

Dan kadang stres.

Saya pernah melihat orang menghitung keuntungan kost dengan sangat detail sampai biaya sabun masuk Excel.

Tapi waktunya sendiri tidak pernah dihitung.

Padahal mengurus bisnis juga punya opportunity cost.

THE KAIA Menggunakan Kepemilikan SHM

Salah satu poin yang menonjol dari THE KAIA adalah status kepemilikan SHM atau Sertifikat Hak Milik.

Buat investor properti, legalitas jelas tidak boleh ditempatkan sebagai bonus kecil.

Ini fondasi transaksi.

Pada kost konvensional, status sertifikat tergantung properti yang dibeli.

Banyak juga rumah kost yang menggunakan SHM.

Jadi SHM bukan keunggulan yang hanya dimiliki THE KAIA.

Bedanya, status tersebut sudah dimasukkan menjadi bagian dari penawaran proyek.

Walaupun begitu, calon pembeli tetap harus melakukan pengecekan dokumen.

Jangan pernah membeli properti miliaran rupiah hanya berdasarkan tulisan pada brosur.

Minta dokumen.

Pelajari AJB.

Periksa sertifikat.

Pahami proses balik nama.

Tanyakan pajak serta biaya transaksi.

Kalau ada bagian yang tidak dipahami, gunakan notaris atau pihak profesional yang memang kompeten.

Lebih baik cerewet sebelum transaksi daripada bingung setelah transaksi.

Developer THE KAIA Tidak Menjual Seluruh Unit

Ada satu konsep yang cukup unik dalam THE KAIA.

Dari total 18 unit yang direncanakan, hanya 16 unit yang dijual.

Satu unit digunakan untuk fasilitas penghuni dan satu unit lainnya dipertahankan oleh pengembang.

Kolam renang juga berada di basement unit yang dipertahankan tersebut.

Logika yang disampaikan adalah pengembang tetap mempunyai kepemilikan di proyek sehingga ikut merasakan konsekuensi apabila kualitas pengelolaan tidak berjalan baik.

Saya tidak akan mengatakan hal ini otomatis menjamin kinerja investasi.

Tidak ada model properti yang bisa memberikan jaminan hanya karena satu faktor.

Tetapi konsep tersebut cukup menarik karena terdapat upaya untuk menyelaraskan kepentingan pengembang dan pemilik unit.

Target Pasar THE KAIA Berasal dari Ekosistem UI

THE KAIA


THE KAIA jelas tidak dibangun di Kukusan tanpa alasan.

Target pasarnya berkaitan erat dengan ekosistem Universitas Indonesia.

Dalam materi proyek terdapat gambaran populasi sekitar 10.434 mahasiswa Diploma dan S1, 3.738 mahasiswa S2 dan S3, serta 2.267 staf akademik.

Ada juga target mahasiswa internasional yang dimasukkan sebagai bagian dari gambaran pasar.

Tetapi jangan salah membaca angka.

Jumlah mahasiswa UI bukan berarti semua menjadi calon penyewa THE KAIA.

Jelas tidak.

Ada mahasiswa yang tinggal bersama orang tua.

Ada yang menyewa apartemen.

Ada yang memilih kost ekonomis.

Ada yang tinggal di wilayah lain.

Angka tersebut lebih tepat digunakan untuk memahami bahwa kawasan sekitar UI mempunyai basis aktivitas pendidikan yang cukup besar.

Setelah itu, kita masih harus melihat segmen mana yang benar-benar menjadi pasar THE KAIA.

THE KAIA Tidak Diposisikan sebagai Kost Murah

Dari fasilitas dan konsep yang ditawarkan, THE KAIA tampaknya tidak sedang mencoba memenangkan perang harga.

Modelnya lebih mengarah pada penghuni yang mencari kenyamanan dan fasilitas lebih lengkap.

Ini penting ketika menganalisis investasi.

Pasar kost murah dan pasar kost premium tidak bekerja dengan cara yang persis sama.

Konsumen kost murah biasanya sangat sensitif terhadap harga.

Selisih beberapa ratus ribu bisa membuat mereka pindah pilihan.

Pada segmen yang lebih premium, penghuni mungkin bersedia membayar lebih ketika mendapatkan lokasi, kamar, fasilitas, keamanan dan pengalaman tinggal yang dirasa sepadan.

Tetapi kata kuncinya tetap: bersedia membayar.

Investor jangan hanya mengasumsikan bahwa fasilitas mahal otomatis bisa diterjemahkan menjadi harga sewa tinggi.

Tetap harus melakukan riset pasar.

Kost Konvensional Menawarkan Fleksibilitas Lebih Besar

Kalau THE KAIA punya sistem yang lebih terstruktur, kost konvensional justru unggul dalam fleksibilitas.

Investor bebas mengubah konsep.

Bebas menentukan desain kamar.

Bebas memilih target penyewa.

Bebas membuat harga harian, bulanan atau tahunan sesuai model bisnis yang digunakan.

Kalau suatu hari perlu renovasi, keputusan ada di tangan pemilik.

Bagi investor yang sudah berpengalaman, keleluasaan ini bisa sangat berharga.

Mereka mungkin sudah tahu karakter pasar sekitar UI.

Sudah punya tim maintenance.

Sudah punya sistem pemasaran.

Sudah mempunyai pegawai.

Dalam kondisi seperti itu, membeli kost konvensional bisa menjadi pilihan yang rasional.

Sebaliknya, investor yang ingin lebih praktis mungkin justru tidak mencari kebebasan sebesar itu.

Mereka mencari sistem.

Harga Kost Konvensional Tidak Bisa Dibandingkan Langsung dengan THE KAIA

Ini kesalahan yang sering terjadi ketika membandingkan properti.

Misalnya ada kost 10 kamar dekat UI seharga Rp3 miliar.

THE KAIA tercantum Rp4,8 miliar.

Lalu langsung disimpulkan:

"Yang Rp3 miliar lebih murah."

Secara harga memang lebih murah.

Tetapi belum tentu produknya sama.

Coba cek dulu.

Apakah luas tanahnya sama?

Status sertifikatnya sama?

Usia bangunannya sama?

Sudah fully furnished?

Ada lift?

Ada basement?

Ada water heater?

Ada smart door?

Ada fasilitas bersama?

Ada pengelolaan?

Jarak ke kampus sama?

Kalau variabelnya berbeda, membandingkan harga total saja tidak memberi banyak informasi.

Saya lebih suka menghitung total biaya sampai aset benar-benar siap menghasilkan.

Kalau membeli kost lama Rp3 miliar tetapi perlu renovasi Rp700 juta, furnitur Rp300 juta dan pekerjaan tambahan lainnya, angka akhirnya sudah berubah.

Makanya jangan tertipu harga depan.

Hitung sampai selesai.

Harga THE KAIA Rp4,8 Miliar Perlu Dibandingkan dengan Net Income

Harga yang tercantum untuk THE KAIA adalah Rp4.800.000.000.

Apakah mahal?

Apakah murah?

Menurut saya pertanyaan tersebut baru bisa dijawab setelah mengetahui kemampuan aset menghasilkan pendapatan.

Dalam investasi rumah kost, saya lebih suka fokus pada pendapatan bersih, bukan omzet.

Rumus sederhananya:

ROI = Pendapatan Bersih Tahunan ÷ Total Modal Investasi × 100%

Sedangkan untuk memperkirakan waktu balik modal sederhana:

BEP = Total Modal Investasi ÷ Pendapatan Bersih Tahunan

Yang perlu diperhatikan, katalog THE KAIA yang digunakan sebagai dasar artikel ini tidak mencantumkan angka resmi pendapatan bersih tahunan per unit.

Karena itu saya tidak mau mengarang ROI.

Calon investor sebaiknya meminta simulasi pendapatan secara resmi.

Lalu jangan hanya memakai satu skenario.

Buat minimal tiga.

Skenario konservatif.

Skenario moderat.

Skenario optimistis.

Misalnya bagaimana kalau okupansi tidak 100 persen?

Bagaimana kalau tarif sewa harus diturunkan?

Bagaimana kalau kompetitor baru muncul?

Justru skenario yang agak jelek biasanya lebih membantu ketika membuat keputusan investasi.

THE KAIA Bisa Menarik bagi Investor yang Mencari Passive Income

Banyak orang yang mulai memikirkan investasi properti ketika ingin mengurangi aktivitas kerja harian.

Terutama menjelang masa pensiun.

Mereka tidak selalu mencari investasi dengan return paling tinggi.

Ada yang lebih mementingkan kestabilan dan kemudahan pengelolaan.

Kalau saya punya dua pilihan, misalnya satu kost memberikan return sedikit lebih tinggi tetapi harus saya urus sendiri setiap hari, sedangkan yang lain return-nya sedikit berbeda tetapi dikelola profesional, saya tidak bisa menilai hanya dari persentase.

Saya juga akan menghitung:

berapa banyak waktu saya yang ikut tersita?

Inilah alasan perbandingan THE KAIA dan kost konvensional tidak cukup hanya melihat bangunan.

Yang dibandingkan sebenarnya juga gaya investasi.

Investor aktif mungkin menyukai kost konvensional.

Investor yang ingin lebih hands-off bisa lebih tertarik pada model pengelolaan seperti THE KAIA.

Apa yang Harus Dicek Sebelum Membeli THE KAIA?

Kalau saya berada di posisi calon investor, saya tidak akan langsung bertanya soal diskon.

Saya justru ingin survey dulu.

Lihat lokasi sebenarnya.

Coba akses menuju Pintu Kutek UI.

Periksa lingkungan.

Lihat kompetitor.

Tanyakan harga sewa kost dan apartemen di sekitar.

Periksa kondisi jalan pada malam hari.

Lihat parkir.

Setelah itu baru masuk ke dokumen.

Periksa legalitas.

Pelajari spesifikasi bangunan.

Baca perjanjian pengelolaan.

Minta simulasi pendapatan.

Dan jangan malu bertanya sampai benar-benar paham.

Investasi Rp4,8 miliar bukan transaksi yang harus diputuskan karena takut "kehabisan".

Keputusan yang bagus justru biasanya dibuat ketika informasi kita cukup.

THE KAIA atau Kost Konvensional, Mana yang Cocok untuk Anda?

Pada akhirnya, THE KAIA dan kost konvensional menawarkan pendekatan yang berbeda.

Kalau Anda mempunyai pengalaman mengelola rumah kost, punya tim sendiri, ingin mengendalikan biaya, serta ingin bebas menentukan strategi bisnis, kost konvensional bisa menarik.

Anda punya kontrol besar.

Namun Anda juga menerima lebih banyak tanggung jawab operasional.

Sebaliknya, jika mencari rumah kost dekat UI dengan konsep yang sudah dirancang sejak awal, fully furnished, fasilitas lebih lengkap dan ada sistem pengelolaan, THE KAIA menawarkan model yang lebih praktis.

Tidak otomatis berarti lebih menguntungkan.

Tetapi bentuk investasinya memang berbeda.

Bagi saya, keputusan terbaik bukan ditentukan oleh pertanyaan:

"Mana yang lebih keren?"

Tetapi:

"Model mana yang paling cocok dengan tujuan investasi dan gaya hidup saya?"

Itu jauh lebih penting.

Kesimpulan

THE KAIA dan kost konvensional dekat UI sama-sama bisa menjadi aset investasi, tetapi cara keduanya bekerja cukup berbeda.

THE KAIA menawarkan rumah kost 10 kamar di Kukusan, Depok, dengan kepemilikan SHM, kamar fully furnished, lift, infinity pool, parkir basement dan berbagai fasilitas bersama.

Konsepnya juga dilengkapi dengan sistem pengelolaan sehingga investor tidak harus menangani sendiri seluruh pekerjaan operasional sehari-hari.

Sementara kost konvensional memberikan fleksibilitas lebih besar.

Pemilik bebas mengatur desain, harga sewa, fasilitas, pegawai, pemasaran hingga sistem pengelolaan.

Keuntungannya adalah kontrol.

Konsekuensinya adalah keterlibatan.

Karena itu sebelum memilih, jangan hanya membandingkan harga bangunan.

Bandingkan lokasi.

Legalitas.

Kualitas bangunan.

Fasilitas.

Pendapatan bersih.

Sistem pengelolaan.

Biaya.

Dan waktu yang harus dikeluarkan pemilik.

Kalau semua faktor tersebut sudah dihitung, barulah keputusan investasi menjadi lebih masuk akal.

Untuk mengetahui proyeknya secara lebih lengkap, baca juga artikel utama:

THE KAIA: Harga, Lokasi, Fasilitas dan Potensi Investasi Kost Dekat UI Depok

FAQ THE KAIA vs Kost Konvensional Dekat UI

Apa perbedaan utama THE KAIA dengan kost konvensional?

THE KAIA menawarkan rumah kost 10 kamar dengan konsep co-living standar hotel, fully furnished, kepemilikan SHM, lift, infinity pool, parkir basement, fasilitas komunal dan sistem pengelolaan. Kost konvensional umumnya mempunyai fasilitas dan pengelolaan yang ditentukan sendiri oleh pemilik.

Apakah THE KAIA dekat Universitas Indonesia?

Ya. Berdasarkan materi proyek, THE KAIA berada di Kukusan, Depok, sekitar 400 meter dari Pintu Kutek Universitas Indonesia.

Berapa harga THE KAIA?

Harga yang tercantum dalam materi proyek adalah Rp4,8 miliar untuk rumah kost 10 kamar dengan spesifikasi dan fasilitas yang dijelaskan dalam penawaran.

Apakah THE KAIA sudah fully furnished?

Ya. THE KAIA ditawarkan dalam kondisi fully furnished dengan fasilitas kamar seperti kasur King Koil, AC inverter Daikin, Smart TV Samsung, water heater Ariston, kulkas mini, furnitur, dan perlengkapan lainnya.

Apakah THE KAIA memiliki lift dan kolam renang?

Ya. Salah satu fasilitas bersama yang ditawarkan adalah lift dan infinity pool, selain working space, gym, laundry area dan fasilitas lainnya.

Apakah THE KAIA menggunakan SHM?

Ya. Dalam materi proyek disebutkan kepemilikan THE KAIA menggunakan SHM atau Sertifikat Hak Milik.

Apakah investor THE KAIA harus mengelola kost sendiri?

Model THE KAIA menggunakan sistem pengelolaan sehingga aktivitas operasional tidak seluruhnya harus ditangani langsung oleh investor. Ketentuan detail tetap perlu dilihat dalam perjanjian pengelolaan.

Berapa ROI THE KAIA?

Materi proyek yang digunakan dalam artikel ini tidak mencantumkan angka resmi pendapatan bersih tahunan atau ROI per unit. Karena itu ROI sebaiknya dihitung setelah mengetahui harga sewa, okupansi, pembagian hasil, dan biaya aktual.

Apakah kost konvensional lebih murah dibanding THE KAIA?

Belum tentu jika hanya melihat harga beli. Perbandingan sebaiknya memasukkan kondisi bangunan, renovasi, furnitur, legalitas, fasilitas, lokasi, biaya operasional dan biaya lain sampai properti benar-benar siap disewakan.

Siapa yang cocok mempertimbangkan THE KAIA?

THE KAIA lebih relevan untuk dipelajari oleh investor yang ingin mempunyai aset rumah kost dekat UI dengan fasilitas lebih lengkap dan sistem pengelolaan, terutama bagi yang tidak ingin mengurus seluruh operasional kost sendiri.


Info  Lebih Detail : 0857 1928 7481

Post a Comment for "THE KAIA vs Kost Konvensional Dekat UI: Apa Perbedaannya?"