THE KAIA: Harga, Lokasi, Fasilitas dan Potensi Investasi Kost Dekat UI Depok
THE KAIA: Harga, Lokasi, Fasilitas dan Potensi Investasi Kost Dekat UI Depok
Kalau sedang mencari investasi kost dekat UI Depok, biasanya pembicaraan cepat sekali lari ke dua hal: harga tanah dan jumlah kamar. Menurut saya, justru dua hal itu belum cukup.
Setelah saya membaca katalog THE KAIA, ada hal lain yang lebih menarik untuk dibahas. Proyek ini tidak sekadar menawarkan bangunan kost 10 kamar, tetapi mencoba menggabungkan konsep rumah kost, co-living, fasilitas seperti hotel, dan pengelolaan profesional dalam satu properti.
Lokasinya berada di Jl. H. Amat No. 11A, Kukusan, Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16425.
Dalam katalog, THE KAIA disebut sebagai rumah kost 10 kamar dengan kepemilikan SHM, bangunan standar hotel, fasilitas lift, kolam renang, parkir basement, serta berjarak sekitar 400 meter dari Pintu Kutek UI.
Nah, bagian ini yang menurut saya perlu dibedah lebih jauh.
Karena ketika orang membeli kost seharga miliaran rupiah, sebenarnya yang dibeli bukan cuma bangunannya. Yang dibeli adalah kombinasi antara lokasi, kualitas produk, kemampuan menarik penyewa, sistem pengelolaan, dan kemungkinan properti itu tetap relevan beberapa tahun ke depan.
Apa Itu THE KAIA?
THE KAIA adalah proyek rumah kost 10 kamar di Kukusan, Depok, dekat Universitas Indonesia, dengan kepemilikan SHM, konsep co-living standar hotel, fully furnished, lift, infinity pool, dan parkir basement. Harga yang tercantum dalam katalog adalah Rp4,8 miliar.
THE KAIA bukan kost sederhana yang hanya menyediakan kamar, kasur, kamar mandi, lalu selesai. Konsep yang ditawarkan lebih dekat ke hunian mahasiswa atau profesional muda dengan fasilitas yang biasanya ditemukan pada serviced residence, apartemen, atau co-living.
Harga saat ini adalah Rp4.800.000.000 untuk 10 kamar standar hotel. Katalog juga mencantumkan 10 executive rooms, 10 bathroom, parkir basement, lift, infinity pool, serta kondisi fully furnished.
Jadi kalau dihitung sangat kasar hanya untuk memahami struktur asetnya, harga Rp4,8 miliar tersebut bukan harga satu kamar. Investor membeli satu unit bangunan kost yang terdiri dari sepuluh kamar.
Tentu saja angka harga per kamar tidak bisa langsung digunakan untuk menilai murah atau mahal. Tanah, bangunan, legalitas, area bersama, basement, lift, fasilitas komunal, furnitur, lokasi, dan pengelolaannya juga ikut membentuk nilai properti.
Lokasi THE KAIA di Kukusan Depok
Buat investasi rumah kost, saya selalu menganggap lokasi sebagai filter pertama.
Kamar bagus bisa direnovasi. Furnitur bisa diganti. Cat bisa diperbarui.
Tetapi lokasi tidak bisa dipindahkan.
THE KAIA berada di kawasan Kukusan, Beji, Depok, dengan posisi yang menurut katalog sekitar 400 meter dari Pintu Kutek Universitas Indonesia.
Pada bagian akses lokasi, katalog menyebut perjalanan sekitar 2 menit menuju Pintu Kutek UI, sekitar 5 menit menuju Gerbang Tol Kukusan 1, serta terdapat akses ke pusat perbelanjaan atau minimarket di sekitar proyek.
Saya lebih suka melihat informasi ini bukan sebagai kalimat promosi semata, tetapi dari sudut pandang perilaku penyewa.
Mahasiswa biasanya tidak ingin menghabiskan banyak waktu untuk perjalanan harian menuju kampus. Semakin dekat tempat tinggal dengan kampus, semakin kecil pula ketergantungan pada kendaraan untuk aktivitas sehari-hari.
Bagi orang tua mahasiswa, lokasi dekat kampus juga biasanya menjadi salah satu pertimbangan saat memilih tempat tinggal anak.
Tentu saja waktu tempuh di brosur harus tetap dipahami sebagai estimasi. Kondisi jalan, jam perjalanan, dan titik tujuan di dalam kampus bisa membuat waktunya berbeda.
Makanya kalau saya berada di posisi calon investor, saya tidak akan berhenti melihat Google Maps. Saya akan datang langsung, berjalan atau berkendara dari THE KAIA menuju Pintu Kutek UI, lalu melihat sendiri lingkungan sekitarnya.
Cara sederhana begitu sering memberikan gambaran yang jauh lebih nyata.
Kenapa THE KAIA Menargetkan Pasar Kost di Sekitar UI?
Katalog THE KAIA memberikan gambaran mengenai basis calon penyewa di lingkungan Universitas Indonesia.
Di dalam materi disebutkan sekitar 10.434 mahasiswa Diploma dan S1, 3.738 mahasiswa S2 dan S3, serta 2.267 staf akademik. Katalog juga menampilkan target 7.000 mahasiswa internasional sebagai salah satu bagian dari pasar yang diperhatikan.
Namun ada satu hal penting.
Angka jumlah mahasiswa tidak otomatis berarti semua akan menyewa di THE KAIA.
Ini kesalahan analisis yang cukup mudah terjadi ketika menilai sebuah investasi kost.
Ada mahasiswa yang tinggal dengan orang tua, tinggal di apartemen, kost lain, asrama, atau mempunyai preferensi harga berbeda. Karena itu, ukuran pasar memang penting, tetapi investor tetap harus melihat posisi produk terhadap kompetitornya.
Di sinilah konsep THE KAIA menjadi menarik untuk dipelajari.
Mereka tampaknya tidak mencoba bersaing sebagai kost termurah.
Produk ini justru dibangun dengan fasilitas yang lebih lengkap untuk menyasar segmen yang mencari kenyamanan lebih tinggi.
Konsep Co-Living THE KAIA Bukan Sekadar Banyak Kamar
Salah satu bagian katalog yang paling membuat saya berhenti cukup lama adalah pernyataan bahwa perilaku orang ngekost sudah berubah, sementara banyak cara membangun kost belum ikut berubah.
Katalog menyoroti masalah kamar yang terlalu kecil, ruangan yang awalnya dibuat untuk single bed tetapi kemudian terasa sesak ketika menggunakan queen bed, serta sistem bangunan yang tidak disiapkan sejak awal sehingga membutuhkan biaya besar ketika hendak diperbaiki.
Saya rasa ini poin yang relevan.
Banyak rumah kost dibuat dengan logika sederhana, yaitu bagaimana memasukkan kamar sebanyak mungkin ke sebidang tanah.
Padahal penghuni sekarang tidak hanya membandingkan jumlah kamar.
Mereka melihat ukuran tempat tidur, WiFi, kamar mandi, keamanan, area kerja, laundry, desain kamar, sampai ruang komunal.
Karena itulah istilah co-living menjadi lebih masuk akal dalam konteks THE KAIA.
Penghuni tidak hanya menyewa ruang tidur. Mereka juga mendapatkan akses ke beberapa fasilitas bersama yang disiapkan oleh pengelola.
Fasilitas Bersama THE KAIA
Bagian fasilitas bersama cukup panjang.
Katalog mencantumkan cafeteria, working space, infinity pool, laundry area, lift, yoga space, gym area, hydrant/APAR, security post, filter air, pojok baca, mushola, CCTV, water purifier, area parkir, dan pocket park.
Ini menurut saya salah satu pembeda terbesar dibanding rumah kost konvensional.
Bayangkan dari sudut pandang calon penyewa.
Ketika membandingkan dua kamar dengan harga yang tidak terlalu jauh, tetapi satu properti menyediakan working space, kolam renang, area laundry, lift, gym, keamanan, dan area bersama, persepsi nilainya tentu berbeda.
Apakah semua penghuni akan menggunakan semua fasilitas?
Belum tentu.
Tetapi justru dalam properti hospitality, tidak semua fasilitas harus digunakan setiap hari untuk memberikan nilai.
Kolam renang mungkin hanya digunakan seminggu sekali. Working space mungkin hanya dipakai ketika mengerjakan tugas kelompok.
Tetapi keberadaannya membuat pengalaman tinggal terasa berbeda.
Seperti Apa Kamar THE KAIA?
Katalog menyediakan denah dan contoh interior beberapa tipe kamar.
Pada denah yang ditampilkan, ukuran kamar tercantum sekitar 3,65 x 2,6 meter, sementara kamar mandi sekitar 1,82 x 1,2 meter.
Yang menurut saya lebih penting adalah cara ruang tersebut dimanfaatkan.
Daripada hanya mengejar ukuran kamar besar, desain interior terlihat mencoba memaksimalkan fungsi melalui furnitur custom, storage, meja kerja, dan penempatan tempat tidur.
Katalog mencantumkan fasilitas kamar seperti dipan dan storage custom, kasur hotel Queen dan Double dari King Koil, bantal microfiber King Koil, lemari dan meja custom, kursi, AC inverter Daikin, listrik 1.300 watt, cermin full body, kulkas mini, USB wall socket, laundry basket, smart door, serta hair dryer.
Untuk kamar mandi, fasilitasnya juga cukup lengkap.
Water heater Ariston 15 liter, exhaust fan, toilet American Standard, jet shower American Standard, shower dan kran Paloma, rak sabun, gantungan pakaian, serta beberapa perlengkapan lainnya.
Pada halaman harga, katalog juga mencantumkan Samsung Smart TV 32 inci, kulkas mini, universal USB, hair dryer, serta fasilitas kamar lainnya sebagai bagian dari spesifikasi produk.
Bagi calon investor, furnitur seperti ini bukan cuma soal kemewahan.
Semakin siap kamar ketika serah terima, semakin sedikit pekerjaan tambahan yang harus dilakukan sebelum kamar dapat dipasarkan.
THE KAIA dan Konsep Bangunan Standar Hotel
Istilah "standar hotel" sering dipakai dalam pemasaran properti, jadi saya biasanya cukup hati-hati ketika mendengarnya.
Yang menarik, katalog THE KAIA mencoba menjelaskan konsep tersebut dari proses pembangunan.
Sebelum pembangunan, katalog menyebut dilakukan sondir untuk menguji daya dukung tanah, pest control sebelum dinding berdiri, serta penggunaan arsitek bermitra dan berlisensi.
Dalam proses pembangunan, disebutkan penggunaan pondasi cakar ayam, besi ulir standar SNI, kontraktor bermitra dan berpengalaman, serta material dan furnitur bermerek dan bergaransi.
Setelah bangunan beroperasi, katalog merencanakan pembersihan mingguan, pengecekan kamar setiap dua minggu, dan pengelolaan dengan standar hospitality.
Bahkan laporan sondir tanah disebut dilakukan pada 19 Agustus 2026 oleh PT Wenays Jaya Semesta.
Detail seperti ini bagi saya lebih berguna daripada sekadar kalimat "bangunan premium".
Karena investor properti pada akhirnya akan memiliki aset tersebut dalam jangka panjang.
Fasad yang cantik memang menarik ketika pertama kali dijual. Tetapi kualitas struktur, instalasi, material, dan maintenance justru yang menentukan seberapa merepotkan bangunan lima atau sepuluh tahun kemudian.
Siapa Arsitek THE KAIA?
Katalog menyebut Wismu Sadono sebagai arsitek THE KAIA.
Ia disebut sebagai arsitek nasional bersertifikasi Dewan Arsitek Indonesia dan lulusan S2 Arsitektur Universitas Indonesia. Katalog juga menyatakan proyek ini didukung tim ahli struktur bangunan yang berpengalaman dan memiliki sertifikasi dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi.
Bagi saya, informasi mengenai tim perencana cukup penting ketika membeli properti inden.
Saat membeli bangunan yang sudah jadi, kita bisa melihat langsung hasil akhirnya.
Pada proyek yang masih dalam proses, investor lebih banyak mengandalkan gambar rencana, spesifikasi, kontrak, reputasi developer, dan orang-orang yang mengerjakannya.
Karena itu background arsitek dan tim struktur layak menjadi bagian dari proses due diligence.
Hal Unik dari Struktur Kepemilikan THE KAIA
Ada satu bagian katalog yang menurut saya cukup tidak biasa.
THE KAIA direncanakan memiliki total 18 unit, tetapi hanya 16 unit yang dijual.
Satu unit digunakan untuk fasilitas seluruh penghuni dan satu unit lainnya ditahan oleh pihak pengembang sebagai milik sendiri. Katalog juga menyebut kolam renang berada di basement unit yang dipertahankan tersebut.
Narasi yang digunakan pengembang cukup menarik.
Mereka ingin tetap memiliki aset di proyek yang sama sehingga jika kualitas pengelolaan mengecewakan, mereka juga ikut merasakan dampaknya.
Saya tidak akan menyebut struktur seperti ini otomatis menjamin pengelolaan akan selalu baik.
Tetapi sebagai calon investor, informasi tersebut jelas layak dimasukkan dalam bahan pertimbangan.
Ada perbedaan psikologis ketika pengembang hanya menjual seluruh unit lalu pergi dibanding ketika mereka masih mempunyai kepemilikan di lingkungan yang sama.
Pengelolaan THE KAIA oleh Escotel Group
Properti kost bagus belum tentu menjadi investasi bagus kalau pengelolaannya berantakan.
Ini sering menjadi bagian yang kurang diperhatikan.
Katalog THE KAIA menyebut pengelolaan dilakukan oleh Escotel Group, yang dalam materi tersebut disebut mengelola 1.024 kamar dan 76 villa di Jabodetabek, Bandung, dan Bali.
Mengelola rumah kost dengan fasilitas seperti THE KAIA tentu berbeda dengan sekadar menerima pembayaran sewa.
Ada housekeeping, maintenance fasilitas, internet, keamanan, laundry, kebersihan area bersama, pemeliharaan lift, kolam renang, sampai komunikasi dengan penyewa.
Semakin banyak fasilitas, semakin tinggi pula tuntutan operasional.
Makanya keberadaan sistem pengelolaan bukan tambahan kecil. Justru ini bisa menjadi bagian inti dari model bisnis.
Bagaimana Skema Bagi Hasil THE KAIA?
Dalam katalog terdapat dua istilah, yaitu komunal dan hybrid system.
Pada model komunal, prinsip yang ditulis adalah sama-sama untung, risiko ketika okupansi rendah ikut ditanggung pengelola, sementara investor disebut bebas dari biaya maintenance dan operasional lainnya.
Sementara pada hybrid system, katalog mencantumkan porsi pengelola sekitar 25 sampai 35 persen dan investor sekitar 65 sampai 75 persen, dengan pembagian hasil proporsional berdasarkan kinerja.
Di bagian ini saya justru menyarankan calon investor jangan buru-buru berhenti pada angka persentasenya.
Baca perjanjian pengelolaan secara detail.
Periksa apa yang dimaksud pendapatan sebelum dibagi, biaya apa saja yang dipotong, bagaimana jika kamar kosong, bagaimana renovasi ditangani, siapa yang menanggung kerusakan tertentu, bagaimana laporan keuangan diberikan, dan apakah ada ketentuan mengenai penghentian pengelolaan.
Persentase bagi hasil tanpa memahami definisi pendapatannya bisa sangat menyesatkan.
Berapa Harga THE KAIA?
Berdasarkan katalog saat ini, harga THE KAIA tercantum sebesar:
Rp4.800.000.000.
Dengan harga tersebut, spesifikasi yang tercantum antara lain 10 kamar standar hotel, 10 kamar mandi, fully furnished, lift, infinity pool, parkir basement, kasur King Koil, AC inverter Daikin, Smart TV Samsung 32 inci, water heater Ariston, closet American Standard, kran dan shower Paloma, kulkas mini, serta perlengkapan kamar lainnya.
Katalog juga mencantumkan beberapa istilah terkait transaksi seperti joining fee, AJB/notaris, SHM, validasi SHM, balik nama dan BPHTB.
Namun saya tidak mau menyimpulkan dari tampilan katalog saja bahwa seluruh komponen tersebut otomatis sudah termasuk harga Rp4,8 miliar.
Ini justru salah satu hal yang sebaiknya dikonfirmasi secara tertulis saat meminta rincian penawaran.
Lebih aman begitu.
Legalitas THE KAIA Menggunakan SHM
Salah satu poin yang cukup menonjol adalah status kepemilikan SHM atau Sertifikat Hak Milik.
Status tersebut sudah disebut sejak halaman pengenalan produk THE KAIA.
Bagi investor yang selama ini membandingkan rumah kost dengan apartemen, aspek kepemilikan tanah memang sering menjadi salah satu pembeda utama.
Namun tetap periksa dokumennya.
Jangan hanya berhenti pada brosur.
Saat proses pembelian semakin serius, mintalah informasi nomor sertifikat, luas tanah, pemecahan sertifikat, proses AJB, pajak, dan jadwal balik nama dijelaskan oleh pihak yang berwenang.
Prinsip saya sederhana: semakin besar nilai transaksinya, semakin penting pengecekan dokumen.
Apakah THE KAIA Menarik untuk Investasi?
Ini pertanyaan yang biasanya muncul paling cepat.
Saya justru tidak mau menjawabnya hanya dengan "ya, menarik" lalu selesai.
Lebih berguna kalau kita melihat komponennya.
THE KAIA memiliki lokasi dekat UI, 10 kamar, kepemilikan SHM, fasilitas yang cukup lengkap, kamar fully furnished, model pengelolaan, serta positioning sebagai kost standar hotel. Semua itu memang merupakan faktor yang relevan untuk sebuah investasi kost.
Tetapi keputusan investasi tetap tidak boleh dibuat hanya dari brosur.
Ada satu angka penting yang belum saya temukan sebagai proyeksi resmi dalam katalog, yaitu pendapatan bersih tahunan per unit THE KAIA.
Begitu juga dengan ROI atau waktu balik modal.
Karena angkanya tidak ada, saya tidak akan mengarangnya.
Justru menurut saya ini kesempatan bagi calon investor untuk menghitungnya sendiri setelah mendapatkan proyeksi sewa dan okupansi resmi.
Rumus dasarnya sederhana:
ROI tahunan = pendapatan bersih setahun ÷ total modal investasi × 100%.
Misalnya nanti sudah diketahui rata-rata harga sewa kamar, okupansi, pembagian hasil pengelola, serta biaya-biaya lain, barulah ROI bisa dihitung lebih masuk akal.
Jangan memakai pendapatan kotor sebagai ROI.
Itu salah satu kekeliruan yang paling sering membuat investasi kost terlihat jauh lebih bagus di atas kertas daripada kondisi sebenarnya.
Jangan Lupakan Kompetitor di Sekitar THE KAIA
Katalog THE KAIA juga menyertakan beberapa contoh harga kost dan apartemen yang berada di sekitar kawasan Depok dan UI.
Halaman 35 sampai 38 menampilkan berbagai listing sewa apartemen, sementara halaman selanjutnya juga memperlihatkan contoh tarif sewa harian properti di sekitar kawasan tersebut.
Menurut saya informasi seperti ini sebaiknya dijadikan titik awal, bukan kesimpulan akhir.
Harga sewa online berubah.
Promo bisa muncul. Unit berbeda lantai bisa berbeda harga.
Furnitur juga berbeda.
Kalau serius membeli THE KAIA sebagai investasi, lakukan riset kompetitor pada minggu yang sama ketika akan mengambil keputusan.
Cari sekitar 10 sampai 20 kost atau apartemen yang benar-benar bisa menjadi alternatif bagi calon penghuni THE KAIA.
Bandingkan harga, ukuran kamar, fasilitas, jarak dari UI, rating, kualitas foto, dan tingkat ketersediaannya.
Dari situ kita bisa mulai melihat posisi harga yang realistis.
Track Record Proyek Sebelumnya
Katalog juga menampilkan proyek KAIA Kostaycation 1 dan KAIA Kostaycation 2.
KAIA Kostaycation 1 disebut mempunyai total 68 kamar dan terjual dalam tiga bulan, dengan progres pembangunan sekitar 90 persen serta target selesai November 2026. Sementara KAIA Kostaycation 2 mempunyai 60 kamar, juga disebut terjual dalam tiga bulan, progres sekitar 25 persen dan target selesai Juli 2027.
Angka tersebut berasal dari katalog versi September 2026, jadi harus dibaca sesuai periode tersebut.
Bagi calon pembeli, track record proyek sebelumnya berguna untuk diperiksa lebih lanjut.
Kalau memungkinkan, jangan cuma melihat foto.
Datangi proyeknya.
Lihat kualitas bangunannya, bicara dengan penghuni atau pemilik bila memungkinkan, dan perhatikan bagaimana kondisi bangunan setelah digunakan.
Saya suka cara ini karena hasil pembangunan sebelumnya sering berbicara lebih jelas dibanding render proyek berikutnya.
Siapa yang Cocok Mempertimbangkan THE KAIA?
Menurut saya, THE KAIA lebih cocok dipelajari oleh investor yang mencari aset rumah kost tetapi tidak ingin mengelola operasional harian sendiri.
Bayangkan pekerjaan kost tradisional.
Ada calon penyewa yang bertanya tengah malam, AC bermasalah, saluran air mampet, WiFi mati, kamar kosong harus dipasarkan lagi, cleaning harus dijadwalkan, dan pembayaran perlu dipantau.
Bagi orang yang memang suka mengelolanya, tidak masalah.
Tetapi investor yang ingin properti menjadi sumber pendapatan pasif biasanya justru ingin mengurangi pekerjaan seperti itu.
Model pengelolaan THE KAIA mencoba menjawab kebutuhan tersebut.
Tetap saja, passive income bukan berarti tanpa risiko.
Investor masih perlu memonitor laporan, okupansi, kondisi aset, performa pengelola, dan perkembangan pasar sewa.
Bedanya, investor tidak perlu menjadi penjaga kost setiap hari.
Hal yang Saya Periksa Sebelum Membeli THE KAIA
Kalau saya berada di posisi calon investor, saya akan datang survey dengan satu tujuan: membuktikan bahwa informasi di brosur masuk akal ketika dilihat di lapangan.
Pertama saya akan mengecek jarak ke Pintu Kutek UI.
Kemudian saya melihat kondisi jalan menuju lokasi, lingkungan sekitar, kemudahan kendaraan masuk, aktivitas kawasan pada pagi dan malam hari, serta kost pesaing yang sudah beroperasi.
Setelah itu baru masuk ke angka.
Saya akan meminta simulasi pendapatan berdasarkan harga sewa realistis, bukan harga maksimum.
Saya juga ingin melihat minimal tiga skenario okupansi: konservatif, moderat dan tinggi.
Baru setelah itu dihitung penghasilan investor berdasarkan skema bagi hasil yang berlaku.
Cara seperti ini mungkin tidak terlalu seru dibanding melihat render bangunan cantik.
Tetapi investasi Rp4,8 miliar memang sebaiknya dibuat sedikit membosankan.
Semakin banyak hal diverifikasi sebelum transaksi, semakin sedikit kejutan setelah transaksi.
Kesimpulan: THE KAIA Bukan Sekadar Kost 10 Kamar
Setelah membedah katalognya, menurut saya hal paling menarik dari THE KAIA justru bukan jumlah kamarnya.
Produk ini mencoba membawa rumah kost ke arah yang lebih dekat dengan hospitality.
Lokasinya berada di Kukusan dekat Universitas Indonesia, mempunyai 10 kamar, status kepemilikan SHM, fasilitas lift, infinity pool, parkir basement, kamar fully furnished, berbagai fasilitas bersama, dan sistem pengelolaan.
Harga yang tercantum dalam katalog adalah Rp4,8 miliar.
Apakah THE KAIA cocok untuk semua investor?
Belum tentu.
Tetapi bagi investor yang sedang mencari investasi kost dekat UI Depok, menginginkan kepemilikan SHM, fasilitas lebih lengkap, serta tidak ingin mengurus sendiri seluruh operasional rumah kost, THE KAIA layak masuk daftar properti yang dipelajari lebih lanjut.
Dan kata "dipelajari" di sini penting.
Datang ke lokasi. Periksa dokumen. Pelajari perjanjian pengelolaan. Bandingkan harga sewa sekitar. Hitung ROI menggunakan pendapatan bersih, bukan pendapatan kotor.
Kalau semua angkanya masuk akal setelah proses tersebut, barulah keputusan investasinya menjadi jauh lebih rasional.
FAQ Tentang THE KAIA
Apa itu THE KAIA?
THE KAIA adalah proyek rumah kost atau co-living di Kukusan, Beji, Depok yang menawarkan 10 kamar dengan konsep standar hotel. Properti ini menggunakan kepemilikan SHM dan dilengkapi lift, infinity pool serta parkir basement.
Di mana lokasi THE KAIA?
THE KAIA beralamat di Kukusan, Beji, Kota Depok, Jawa Barat 16425.
Berapa jarak THE KAIA dari Universitas Indonesia?
Katalog menyebut THE KAIA berada sekitar 400 meter dari Pintu Kutek UI dan sekitar dua menit menuju Pintu Kutek UI.
Berapa harga THE KAIA?
Harga THE KAIA yang tercantum pada katalog adalah Rp4.800.000.000 untuk rumah kost 10 kamar dengan berbagai fasilitas yang dijelaskan di dalam katalog.
Apakah THE KAIA sudah fully furnished?
Ya. Katalog menyebut unit THE KAIA fully furnished dan mencantumkan perlengkapan kamar seperti kasur King Koil, AC inverter Daikin, Smart TV Samsung, water heater Ariston, kulkas mini, smart door, meja, lemari, dan perlengkapan lainnya.
Apakah THE KAIA menggunakan SHM?
Ya. Katalog THE KAIA menyebut kepemilikannya menggunakan SHM atau Sertifikat Hak Milik.
Siapa pengelola THE KAIA?
Dalam katalog disebutkan pengelola THE KAIA adalah Escotel Group. Materi tersebut menyebut Escotel Group mengelola 1.024 kamar dan 76 villa di Jabodetabek, Bandung serta Bali.
Berapa ROI investasi THE KAIA?
Katalog yang saya baca tidak mencantumkan angka ROI resmi atau pendapatan bersih tahunan untuk satu unit THE KAIA. Karena itu, ROI sebaiknya dihitung setelah mendapatkan asumsi harga sewa, okupansi, pembagian hasil, dan biaya yang benar-benar berlaku.
Apakah THE KAIA cocok untuk passive income?
Konsep pengelolaannya memang diarahkan agar operasional kost dapat ditangani pengelola. Namun pendapatan investasi tetap dipengaruhi okupansi, tarif sewa, performa pengelola, biaya, kondisi properti, dan pasar sewa.
Apa yang perlu dilakukan sebelum membeli THE KAIA?
Calon investor sebaiknya melakukan survey lokasi, memeriksa dokumen legalitas, membaca perjanjian pengelolaan, meminta simulasi pendapatan, membandingkan harga sewa kompetitor, dan menghitung ROI berdasarkan pendapatan bersih.

Post a Comment for "THE KAIA: Harga, Lokasi, Fasilitas dan Potensi Investasi Kost Dekat UI Depok"